Sejarah Gereja Di Indonesia

Beberapa literatur, terutama dari kalangan Gereja Katolik Roma menyebutkan bahwa agama Kristen telah hadir di Indonesia melalui kedatangan sejumlah pedagang beragama Kristen Nestorian dari Timur Tengah sejak abad ke-7, yaitu di pelabuhan Pancur, tepatnya di pantai barat Sumatera Utara, tepatnya di kota kecil Barus. Banyak bukti yang diajukan untuk membenarkan hipotesa ini.Tanpa mempersoalkan kebenaran asumsi tersebut, yang jelas kekristenan sekarang ini tidak mewarisi apa-apa dari Kristen Nestorian di atas.

Gereja dan kekristenan pertama di Indonesia adalah Gereja Katolik Roma, yang datang dan masuk bersama para saudagar dan prajurit Portugis, sejak tahun 1511. sepanjang abad ke-16 gereja ini berkembang pesat di seluruh wilayah nusantara khususnya di kawasan pantai dan pelabuhan. kita mengenang dengan rasa hormat, misalnya Fransiscus Xaverius, missionaris yang gagah berani dan penuh dedikasi. Sejak awal abad ke-17, dengan hadirnya VOC, yaitu kongsi dagang Belanda yang didukung dan dipersenjatai oleh pemerintah Belanda, sebagian besar pengikut Gereja Katolik Roma diprotestankan kecuali di Flores dan Timor Timur. Gereja Katolik Roma kembali berkembang secara besar-besaran sejak pertengahan abad ke-19, ketika pemerintah Belanda menganut azas netralitas di bidang keagamaan dan mengijinkan misi Gereja Katolik Roma kembali bekerja di negeri ini.

Gereja Katolik Roma di Indomnesia pada umumnya tercakup dalam satu kesatuan organisasi dan pelayanan yang tunduk kepada hierarki Gereja Katolik Roma sedunia dan kepemimpinan Paus di Vatikan, di bawah Konferensi Waligereja Indonesia. Jumlah pemeluknya di Indonesia sekitar 7 – 8 juta umat. sedangakn umat Protestan tersebar di 275 organisasi gereja, ditambah denagn 400an Yayasan.

Seperti yang sudah diutarakan di atas Gereja Protestan hadir di Indonesia pada abad ke-17, tepatnya tahun 1602, ketika VOC datang ke Indonesia.

Aliran-aliran dalam agama Kristen

1. Lutheran

2. Calvinis

3. Anglican

4. Baptis

5. Metodis

6. pentakosta

7. Kharismatik

8. Injili

9. Bala Kesellamatan

10. Adventis

11. Saksi Jehova

12. Mormon

13. Christian Science

14. Scientology

15. Gerakan Zaman Baru

 

 

Tentang Dosa

Di dalam kehidupan yang super modern ini, masalah dosa semakin jarang dibicarakan, bahkan arti dari dosa itu sendiri sering juga dibuat sehalus mungkin untuk tidak menyinggung ’perasaan’ orang lain. Alkitab menulis bahwa dosa sesungguhnya bukan hanya sekedar ”apa yang orang telah lakukan,” tetapi juga ”apa yang orang pikirkan” dan ”apa yang orang tidak lakukan.”

  • Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.  (Yakobus 4:17)
  • Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.  (1 Yoh 5:17)
  • Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.  (1 Yoh 3:4)

Jadi dosa adalah ketidaktaatan kepada TUHAN, entah itu melakukan apa yang Dia larang, atau gagal melakukan apa yang Dia telah perintahkan.

Sebab upah dosa ialah maut (Roma 6:23a)

  • Dosa membawa pemisahan antara manusia dengan Penciptanya, berakibat perbudakan (kehendak)
  • Dosa membawa pelakunya pada kondisi bersalah, berakibat penghukuman kekal (pikiran bersalah)
  • Dosa membawa ketidak bahagian, berakibat kematian kekal

* Efesus 2:15
“sebab dengan mati-Nya sebagai manusia IA TELAH MEMBATALKAN HUKUM TAURAT dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,”

Matius 5 : 17 – 19

Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan HUKUM TAURAT atau Kita Para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari HUKUM TAURAT, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah HUKUM TAURAT sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya  demikian kepada orang lain ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam kerajaan sorga, tetapi……

TENTANG TANGGAL, BULAN DAN TAHUN KELAHIRAN “MESIAS”

TENTANG TANGGAL, BULAN DAN TAHUN KELAHIRAN “MESIAS”

Sejumlah kalangan teologis meragukan pendapat tentang kelahiran Yesus pada bulan Desember. Lalu mengapa atau darimana munculnya tradisi Natal yang dirayakan tanggal 25 Desember ini? Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Christmas’ mengatakan : “Alasan mengapa Natal sampai dirayakan pada tanggal 25 Desember tetap tidak pasti, tetapi paling mungkin alasannya adalah bahwa orang-orang Kristen mula-mula ingin tanggal itu bertepatan dengan hari raya kafir Romawi yang menandai ‘hari lahir dari matahari yang tak terkalahkan’ …; hari raya ini merayakan titik balik matahari pada musim dingin, di mana siang hari kembali memanjang dan matahari mulai naik lebih tinggi di langit. Jadi, kebiasaan yang bersifat tradisionil yang berhubungan dengan Natal telah berkembang dari beberapa sumber sebagai suatu akibat dari bertepatannya perayaan kelahiran Kristus dengan perayaan kafir yang berhubungan dengan pertanian dan matahari pada pertengahan musim dingin. … Tanggal 25 Desember juga dianggap sebagai hari kelahiran dari dewa misterius bangsa Iran, yang bernama Mithra, sang Surya Kebenaran”. Lalu kalau begitu apakah perayaan Natal ini berbau kekafiran seperti dituduhkan oleh beberapa golongan belakangan ini? (Catatan : Beberapa gereja menolak merayakan Natal karena beranggapan bahwa Natal bersumber dari tradisi kafir). Tentu saja tidak! Harus diingat bahwa perayaan Natal yang bertepatan dengan perayaan kafir itu bukan berarti bahwa umat Kristen waktu itu menyembah dewa-dewa kafir. Sebaliknya justru mereka ingin menjauhkan diri dari kekafiran. Perhatikan kata-kata Herlianto : “Pada tahun 274, di Roma dimulai perayaan hari kelahiran matahari pada tanggal 25 Desember sebagai penutup festival saturnalia (17-24 Desember) karena diakhir musim salju matahari mulai menampakkan sinarnya pada hari itu. Menghadapi perayaan kafir itu, umat Kristen umumnya meninggalkannya dan tidak lagi mengikuti upacara itu, namun dengan adanya kristenisasi masal di masa Konstantin, banyak orang Kristen Roma masih merayakannya sekalipun sudah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan ‘kelahiran matahari’ itu menjadi perayaan ‘kelahiran Matahari Kebenaran’ dengan maksud mengalihkan umat Kristen dari ibadat kafir pada tanggal itu dan kemudian menggantinya menjadi perayaan ‘Natal.’ Pada tahun 336, perayaan Natal mulai dirayakan tanggal 25 Desember sebagai pengganti tanggal 6 Januari. Ketentuan ini diresmikan kaisar Konstantin yang saat itu dijadikan lambang raja Kristen. Perayaan Natal kemudian dirayakan di Anthiokia (375), Konstantinopel (380), dan Alexandria (430), kemudian menyebar ke tempat-tempat lain”. (www.yabina.org). Herlianto melanjutkan : “Dari kenyataan sejarah tersebut kita mengetahui bahwa Natal bukanlah perayaan dewa matahari, namun usaha pimpinan gereja untuk mengalihkan umat Roma dari dewa matahari kepada Tuhan Yesus Kristus dengan cara menggeser tanggal 6 Januari menjadi 25 Desember, dengan maksud agar umat Kristen tidak lagi mengikuti upacara kekafiran Romawi. Masa kini umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari dewa matahari, dan tanggal 25 Desember pun tidak lagi mengikat, sebab setidaknya umat Kristen secara umum merayakan hari Natal pada salah satu hari di bulan Desember sampai Januari demi keseragaman. Karenanya Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘from church year Christmas’ menulis : “...hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari. …” Demikianlah asal usul perayaan Natal pada tanggal 25 Desember.

Tahun berapakah Yesus dilahirkan?

Sama seperti masalah tanggal/bulan kelahiran Kristus, tahun kelahiran Kristus pun tidak pasti. Namun demikian, kita memiliki beberapa acuan historis dari Alkitab. (1) Yesus dilahirkan pada zaman raja Herodes (Mat 2:1). Kalau Yesus dilahirkan pada zaman raja Herodes maka kita memerlukan informasi masa pemerintahan Herodes. Flavius Josephus seorang sejarawan Yahudi  memberikan informasi bahwa Herodes mulai memerintah dari tahun 73 hingga tahun 4 SM (tahun kematiannya). Itu berarti bahwa Yesus tidak mungkin lahir setelah tahun 4 SM karena sewaktu Yesus lahir Herodes masih hidup dan bahkan Herodes ingin membunuhnya. Dari terang ini kita bisa memperkirakan bahwa Yesus lahir beberapa tahun sebelum kematian Herodes (tahun 4 SM). (2) Yesus dilahirkan pada saat Kaisar Agustus mengadakan sensus di mana Kirenius menjadi wali negeri di Siria (Luk 2:1-2). Menurut catatan Josephus, seorang bernama Kirenius pernah dikirim ke Siria dan Yudea untuk menyelenggarakan suatu sesus pada permulaan tarikh masehi. Sensus ini merupakan bagian dari operasi pembersihan setelah Arkhelaus (putera Herodes Agung) dipecat dari jabatannya.    Peristiwa ini terjadi beberapa tahun setelah Herodes mati (tahun 6-7 M). Melihat data ini rasanya sulit mencocokkannya dengan acuan pertama di atas namun penjelasan dapat diberikan untuk ini bahwa Lukas memberikan catatan awal dari tugas Kirenius itu (beberapa tahun sebelum tahun 6-7 M) namun mengingat masalah transportasi dan komunikasi yang sangat sulit waktu itu maka tugas itu baru berakhir pada tahun 6-7 M seperti yang dicatat oleh Josephus. (Informasi : Untuk memahami lebih jauh masalah ini, silahkan baca buku John Drane “Memahami Perjanjian Baru” hal. 54-57). (3) Yesus dibaptis ketika berumur 30 tahun yakni tahun ke 15 dari pemerintahan kaisar Tiberius (Luk 3:1). Pemerintahan resmi Kaisar Tiberius atas Roma dimulai pada tahun 14 M sehingga tahun ke 15 pemerintahnnya adalah tahun 28 M. Namun sebenarnya ia telah memerintah bersama kaisar Agustus sejak tahun 11 M sehingga meskipun ia secara resmi baru memerintah tahun 14 M (setelah Agustus mati) tetapi sesungguhnya ia telah memegang kekuasaan sejak tahun 11 M. Mungkin sekali Lukas menghitung tahun ke 15 pemerintahan Tiberius ini dari tahun 11 M sehingga tahun ke 15 pemerintahan Tiberius adalah tahun 25-26 M. Kalau pada tahun 25-26 M Yesus berumur 30 tahun, maka dapat diperkirakan waktu kelahiran Yesus dari sini yakni berkisar tahun 5 atau 4 SM. Dari semua data sejarah ini pada umumnya para ahli sejarah dan teolog memberikan perhitungan tahun kelahiran Yesus di sekitar tahun 8 hingga tahun 4 SM. Ada yang berkata Yesus lahir sekitar tahun 8-5 SM, ada juga yang memperkirakan tahun 6-4 SM.

Mengapa Yesus lahir “Sebelum Masehi”?

Dari beberapa perhitungan tahun kelahiran Yesus yang telah dikemukakan di atas, semuanya mengacu pada masa sebelum Masehi. Kata “Masehi” sesungguhnya mempunyai akar kata yang sama dengan “Mesias” dalam bahasa Ibrani dan “Kristus” dalam bahasa Yunani. Jadi sesungguhnya kata “Masehi” yang dipakai dalam perhitungan tahun-tahun pada masa kini menunjuk pada Kristus. Jika kita menyebut tahun 50 SM (Sebelum Masehi) artinya ada 50 tahun sebelum kelahiran Kristus. Jika kita menyebut tahun 100 M (Masehi) maka maksudnya adalah 100 tahun setelah kelahiran Kristus. Tentu sesuatu yang sangat menarik bahwa tahun kelahiran Kristus dijadikan sebagai patokan perhitungan tahun dalam dunia ini. Lalu bagaimana dengan perhitungan-perhitungan tahun kelahiran Kristus yang mengacu pada masa sebelum Masehi? Jika kita berkata bahwa Kristus dilahirkan sekitar tahun 8-5 sebelum Masehi bukankah itu berarti bahwa Kristus lahir sekitar 5-8 tahun sebelum kelahiran-Nya? Bukankah ini sebuah kejanggalan? Mengapa bisa terjadi seperti ini?

Pada abad 6 kaisar Justinian memberikan perintah kepada seorang yang bernama Dionisius Exegius untuk membuat sebuah kalender dengan perhitungan tahun Masehi (tahun kelahiran Kristus) untuk mengganti kalender Romawi saat itu yang memakai perhitungan tahun berdasarkan tahun berdirinya kota Roma yang biasanya disingkat AUC (Ab Urbe Condita). Menurut perhitungan tahun AUC, kelahiran Kristus jatuh pada tahun 747 namun ternyata dalam pembuatan kalender Masehi itu Dionisius Exegius membuat kekeliruan perhitungan dengan menempatkan kelahiran Kristus pada tahun 753 AUC sehingga terjadi kekurangan sekitar 6 tahun. (Informasi : Baca penjelasannya lebih lanjut dalam buku Selamat Natal karangan Andar Ismail, hal. 43). Kekeliruan ini tidak sempat diperbaiki karena kalender yang dibuat telah dipublikasikan ke seluruh kekaisaran Romawi bahkan sudah diterima seluruh dunia pada masa kini (Catatan : Jadi kalender yang kita pakai sekarang ini adalah hasil karya Dionisius Exegius). Karena kekurangan ini maka Kristus yang seharusnya menurut tarikh Masehi dilahirkan pada tahun 0 (nol) sebagai pusat perhitungan tahun-tahun akhirnya bergeser kira-kira 6 tahun. Itulah sebabnya perhitungan tahun kelahiran Kristus menjadi bergeser beberapa tahun dari tahun 0 (nol) sehingga para sejarawan dan peneliti menempatkannya sekitar tahun 6-4 SM. Dan dengan demikian perhitungan tahun kita saat ini juga berkurang sekitar 6 tahun. Jadi seandainya tidak terjadi kekeliruan perhitungan Exegius maka sekarang ini kita bukannya berada pada tahun 2012 melainkan mungkin di sekitar tahun 2018 atau 2020. Faktanya Exegius telah salah menghitung dan akhirnya tahun-tahun berkurang 6 tahun sehingga kita saat ini masih berada di tahun 2012.

BAHAN DISKUSI KELOMPOK

 

Berikut 4 Fakta Yesus Tidak Lahir Bulan Desember

 

1.     Tidak ada satu pun keterangan dalam kitab Injil versi apapun yang menjelaskan kepastian kapan lahirnya Yesus.

2.     Dijelaskan dalam Injil, Lukas 2:11 bahwa Yesus lahir pada saat para penggembala keluar di malam hari menjaga para kambingnya.
Faktanya, bahwa bulan Desember merupakan musim dingin yang tidak memungkinkan untuk orang keluar rumah apalagi di padang rumput pada malam hari.

3.     Dalam Injil, ada perbedaan dalam silsilah Yesus.

Menurut Injil Matius 1:1-16, Yesus adalah keturunan Abraham yang ke 41.
Menurut Injil Lukas 3:23-38, Yesus adalah keturunan Abraham yang ke 57.

4.     Dalam Injil, juga ada perbedaan pada tahun kelahiran Yesus.
Injil Matius menjelaskan bahwa Yesus lahir paling lambat pada tahun 4 SM.
Sedangkan Injil Lukas 2:1-20 menjelaskan Yesus lahir pada 7 M.

Pertanyaan:

1.     Apa tanggapan kelompok Anda dengan, ke empat pernyataan di atas?

2.     Seberapa pentingkah tanggal, bulan dan tahun kelahiran Yesus bagi kelompok Anda? Berikan alasan.